Waduhhh! Gadis 10 Tahun Melahirkan Seorang Bayi Perempuan

Berita mengejutkan datang dari Kolombia, seorang gadis berusia 10 tahun resmi menjadi salah satu ibu termuda Baca Lagi ...

Ini Bahayanya Jika Anda Bercinta Saat Sedang Haid

Jakarta - Tidak sedikit pasangan yang berani mengambil risiko bercinta saat si wanitanya sedang haid Baca Lagi ...

Kristal dari Air Liur Berbahan Kaca

MALANG - Kristal yang dikabarkan keluar dari air liur Rafael (1), bayi asal Kabupaten Malang, Jawa Timur Baca Lagi ...

Jumlah Seks Maksimal dan Minimal yang Positif ...

Jakarta, Hubungan seks yang dilakukan oleh pasangan bisa memberikan banyak dampak positif bagi Baca Lagi ...

Perbesar Buah Dada dengan Terapi Tampar Payudara

Bangkok, Terapi tampar payudara atau breast slap pertama kali dipopulerkan di Thailand. Terapi Baca Lagi ...

Perempuan Indonesia Jangan Buru-buru Hamil

Senin, 28/02/2011 12:23 WIB

Jakarta, Tingginya kasus remaja yang hamil sebelum waktunya jadi perhatian serius Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih. Menkes khawatir pengetahuan kehamilan yang tidak cukup akan berimbas lahirnya bayi-bayi kurang gizi.

Menurut Menkes sangat penting bagi perempuan untuk mengetahui gizi seimbang bagi bayi ataupun balita sehingga akan lahir generasi-generasi baru yang sehat dan kuat.

Pentingnya gizi diperlukan untuk menekan penurunan prelavensi anak balita pendek (stunting) menjadi 32% pada 2015.

"(Angka kekurangan gizi) sudah dari dulu. Maka wanita sejak masih remaja, penting akan gizi. Jangan cepat-cepat hamil," imbau Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih usai launching rencana aksi nasional pangan dan gizi (RAN-PG) tahun 2011-2015 di kantor Kementerian PPN/Bappenas, Menteng, Jakarta, Minggu (28/2/2011).

Ia mengatakan, penting bagi perempuan Indonesia mengerti dan paham akan artinya penting gizi, hingga sang bayi lahir. .

"Apabila anak Indonesia, pertumbuhan fisiknya bagus, akan lebih baik. Juga dalam memprogramkan waktu ibu hamil," ucap Endang.

Pemerintah mencatat angka kekurangan gizi balita telah menurun dari 28% di tahun 2005 menjadi 17,9% pada tahun lalu (Riskesdas 2010). Dimana pada RPJMN 2010-2014 ditargetkan prevalensi gizi kurang pada balita menjadi 15%.

"Saat ini, status gizi mengalami perbaikan. Tercatat 18,4% di 2008, dan saat ini 17,9%," ucap Endang.

Namun Menkes mengaku ada hal lain yang lebih penting dibandingkan angka kekurangan gizi, yakni permasalahan stunting. Dimana stunting menjadi fokus intervensi dalam pembangunan gizi di Indonesia dalam 5 tahun ke depan.

"Ada permasalahan lain, balita pendek. Ditemukan 1/3 balita anak berkategori pendek," tuturnya.

Pada tahun 2007 prevelensi pendek pada anak balita sebesar 36,8%. Meski jumlah prevalensi turun menjadi 35,6%, tetapi disparsitas prevalensi stunting antar provinsi yang cukup lebar. Untuk itu perlu mendapat penanganan spesifik terutama di wilayah rawan pangan.

"Keluaran rencana aksi diharapkan dapat menjembatani MDGs yang pada dasarnya telah ditetapkan dalam RPJMN 2010-2014 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang pada anak balita menjadi kurang dari 15%, menurunnya prevalensi pendek pada anak balita menjadi 32%, dan tercapainya konsumsi pangan dengan asupan kalori 2.000 kilo kalori per orang per hari," kata Menteri PPN/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana dalam kata sambutannya.

sumber : detiHealth

Tidak ada komentar:

Posting Komentar